Keras di Luar, Lembut di Dalam... KLUWEK

Beberapa hari lalu, ibuku memasak rawon (makanan khas Jawa Timur dengan kuah berwarna hitam dan berisi daging sapi) untuk hajatan di rumahku, sebagai anak perempuan di keluargaku adalah seharusnya aku membantu ibuku dan tugas pertamaku adalah....... memecah kluwek dan mengeluarkan isinya. Kluwek? Apa itu? Bagaimana cara mengeluarkannya? Setelah diberi arahan sana sini, ternyata membuka bijinya, atau bagian luarnya, harus dipukul dengan palu atau benda lainnya yang cukup keras. Cara memukul juga tidak sembarang, harus dipukul di bagian pinggir bukan di bagian tengah, agar bisa terkuak dan terbelah menjadi dua dengan sempurna --yang akhirnya pekerjaan pukul memukul ini aku serahkan adik laki-lakiku. Setelah itu bagian dalamnya yang berwarna hitam dan lembut di ambil dan dipisahkan. Bagian dalam ini berbau asam dan agak gurih, karena penasaran aku mencoba menjilatnya sedikit dan rasanya ternyata hambar, kecele aku, kukira aku  akan terkejut dengan rasanya yang masam :D
sumber: http://justtryandtaste.blogspot.com/2011/05/kluwek-tentang-tips-memilih.html
Lalu, bagaimana cara mengolah kluwek tersebut? (narasumber: ibu Titik (ibuku ^o^))
gampang saja, haluskan kluwek hingga halus, kemudian tumis bersama dengan bumbu rawon. setelah bumbu dan kluwek matang, masukkan ke dalam air mendidih, tambahkan daun bawang, daging matang (daging yang telah di rebus sebelumnya), dan bumbu-bumbu.... walaaaaa jadilah rawon... tambahkan kecambah atau tauge kecil dan sambal yummmm :9 makan makan......
untuk resep rawon, klik disini --> resep rawon
videonya:



Lalu apa sih manfaat kluwek dalam rawon? tentu saja kluwek bertugas sebagai pembuat ciri khas dari rawon itu sendiri, yaitu warna hitamnya, bau yang asam dan gurih, serta rasanya yang khas... yummy :9
daaaaaan menurut beberapa blog yang saya baca, kluwek dipercaya dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah, tetapi karena belum ada penelitian secara medis, aku masih ragu dan belum bisa bilang kalau kluwek memang dapat menurunkan kadar kolesterol. no offense ^o^

go blogging!!

sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOhdze_TqocipABpvzdbuwRMnvES9PKaGZYle_tMywV17cZdxXGn5fi42GmBJsSnFnW1bjsGPRXF4-KOk78KkdtjLJYPDA4UuescXHuRp93_BYGIudHMK5LKPI2YR9_yj3G1NYcblTRrI/s1600-h/Whatirablog.jpg

go blogging!!!
ini semangat pertama untuk aktif di dunia blog dengan pertimbangan libur 3 bulan -- yang terdengar menggiurkan beberapa bulan lalu tetapi sekarang begitu membosankan di hari kelima-- ^^ 

BANGGALAH SEKALI-KALI



Saya pernah membaca salah satu status dari suatu halaman surat kabar online yang isnya kurang lebih seperti ini; " batik diajarkan di kelas dan menjadi kurikulum wajib di beberapa sekolah di Amerika" wah, betapa mereka menghargai hasil kebudayaan kita, banggalah apa yang kita punya dikagumi orang asing. Tapi tiba-tiba mood 'bangga' saya hilang setelah membaca berbeapa komentar --yang menurut saya sedikit agak tidak menyenangkan untuk dibaca-- diantaranya kurang lebih seperti ini:"kalau di Indonesia mana mau anak-anak mudanya belajar membatik di sekolah?"
"kapan ya di Indonesia ada kurikulum seperti itu? ada sih kayak gitu tapi pasti adanya di sekolah mahal"
"dasar orang Indonesia kurang cinta dengan kebudayaannya sendiri sampai-sampaii kebudayaannya dipakai di negara lain"
"ah, kecolongan lagi"
pertanyaan saya saat itu; pertama, sudah bertanyakah Anda pada siswa-siswi di sekitar Anda tentang apa yang mereka pelajari pada materi seni dan budaya? sudah bertanyakah Anda pada siswa-siswi di seluruh Indonesia tentang apa yang mereka pelajari pada materi seni dan budaya?
Beberapa tahun lalu saya masih siswa Sekolah Menengah Atas. Sekolah saya hanya sekolah negeri biasa --bukan sekolah bergengsi yang notabene ber-SPP mahal, bukan sekolah anak-anak kaya karena hanya orang kaya yang mampu menyekolahkan anaknya di sana-- tetapi saya punya hasil karya 'batik tulis' hasil coretan saya sendiri, saya pernah duduk berpanas-panasan di depan malam batik cair, saya pernah mendidihkan dan mencuci coretan saya kemudian mewarnai kain saya sehingga menjadi seongok kain bermotif, yang seharusnya disebut BATIK.
Sudah tahukah Anda di beberapa daerah lain juga ada -mungkin- banyak siswa atau remaja yang juga punya batik hasil coretan mereka sendiri?
kedua, sudah berkacakah Anda? Seberapa jauh Anda mengenal kebudayaan Anda? Sudah cintakah Anda pada budaya Anda? seberapa 'ngelontok'kah Anda dengan budaya Anda? Apa Anda tahu nama tarian, senjata, laat musik, baju, rumah, lagu, permainan khas daerah Anda? Jujur saja, saya juga tidak bisa menjwab itu semua. saya kurang memahami budaya saya, saya tidak bisa berbahasa jawa 'krama inggil', saya tidak hafal aksara jawa, banyak yang saya tidak ketahui. Tapi saya berusaha mempelajarinya perlahan, saya berusaha mencintai budaya saya, saya berusaha tidak mencemooh, mengejek, meremehkan negara saya apalagi orang-orang negara saya --yang katanya tidak cinta budayanya sendiri--, berusaha tidak mengutuk ndgara yang mengakui budaya kita -- atau budaya yang kebetulan kurang mendapat perhatian. Ya kita semua samalah, sama-sama kurang. Bukan maksud saya menggurui atau karena saya sudah merasa 'ah, saya kan sudah belajar budaya saya' tapi saya menjadi terlalu emosi untuk tidak mengatakan, sudahlah jangan mengejek dan mengkritisi negara kita terus. ini negara kita, kita yang menghidupkannya, kita yang membangun, kita yang menjaga. Kita sendiri yang menanam tanaman di tanah Indonesia, kita sendiri juga yang memakan hasilnya, kita membangun papan di tanah Indonesia, kita sendiri yang menempati. Apa sih yang membuat negara kita ada? masyarakat. Siapa masyarakat? kita toh? Jadi, berhenti mengejek diri Anda sendiri.





“Hanya satu negara yang menjadi negaraku. Negara itu tumbuh karena perbuatan. Dan perbuatan itu adalah perbuatanku.”(mohammad Hatta)
jadi,,, inilah blog dengan tulisan pertamaku,, setelah dari dulu membuat blog dan akhirnya tidak terawat,,
walaaaa
oke, sepertinya untuk tulisan pertamaku aku mulai dengan sedikit narsis,, karena tak kenal maka tak sayang ^o^
basa-basi saja, namaku Dinda, sejak lahir hingga umur saya yang baru saja mentas dari masa remaja ini tinggal di kota kecil Malang, Jawa Timur. Menyelesaikan 12 tahun wajib belajar dengan sukses di Malang dan sekarang sedang mengarungi dunia mahasiswa di Malang juga,, how I  love Malang,, LOL
Aku suka hamster :3 ini hamsterku, Mariana, jenis winter white betina,, aku memelihara hamster sejak SMP, hamster pertamaku kubeli tahun 2005 dengan hasil keringatku sendiri dan akhirnya berakhir dalam tanah karena dengan pedenya aku memandikan hamsterku di sore yang mendung ToT. Pada tahun 2008-2009,  ini masa kejayaan hamster-hamsterku dimana rumahku penuh dengan suara suara gemrisik mama papa hamster, anak anak hamster dan bayi hamster yang masih merah. Hingga kelas 3 SMA, masa-masa sok sibuk dalam hidupku, hamsterku mulai berkurang satu persatu, berakhir dengan beberapa rupiah di kantong dari peminat hamster dan  penjual hamster di pasar hewan,,, sedih juga mengingat mereka kurawat dengan cinta, tapi capek, berakhir di tangan orang lain yang tidak tahu bagaimana nasib mereka selanjutnya,, may God blees 'em all ^o^

Aku suka main game, banyak yang bilang aku gamer tapi menurutku tidak juga :p sekarang aku sedang gila main The Sims Social on Facebook dimana aku bisa menghabiskan sebagian besar jam-jam dalam hidupku bermain game ini walaupun aku punya kesadaran kalau besok ujian akhir atau tugas menumpuk :D




cukuplah basa-basiku,, terlalu banyak basa-basi membuat topeng semakin tebal terbentuk, apa adanya sajalah ^^ catch later



DINDA. Diberdayakan oleh Blogger.

up